MAKNA SOSIO – RELIGIUS DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI NGONCANG DI BANJAR PAKETAN, BULELENG, BALI
Kata Kunci:
Kata Kunci: Ngoncang, sosio-religius, nilai pendidikan, budaya Bali, kearifan lokal.Abstrak
Abstract
The Ngoncang tradition is one of the cultural heritages of the Banjar Paketan community in Buleleng, Bali, which has been preserved to this day as an essential part of their social and religious life. This tradition is performed by rhythmically striking bamboo or wooden slit drums (oncang-oncangan) on the eve of Pengerupukan Day, one day before Nyepi, as an expression of gratitude to Ida Sang Hyang Widhi Wasa and as a means of spiritual purification and cleansing the environment from negative influences. This study aims to explore the socio-religious meanings and educational values embedded in the Ngoncang tradition and to explain its relevance in contemporary Balinese society. The research employed a qualitative descriptive method with an ethnographic approach, involving field observations, interviews with youth groups (sekaa teruna), and a review of relevant literature. The findings reveal that the Ngoncang tradition holds profound religious significance as an act of devotion, gratitude, and spiritual purification, while socially it functions to strengthen communal bonds through togetherness and collective cooperation. Furthermore, the tradition embodies educational values such as discipline, responsibility, cooperation, and reverence for ancestors, which are transmitted to younger generations. In conclusion, the Ngoncang tradition serves not only as a religious ritual but also as a medium for character formation and cultural preservation that reinforces the identity of Balinese society amid the dynamics of modernization.
Keywords: Ngoncang, socio-religious, educational values, Balinese culture, local wisdom.
Abstrak
Tradisi Ngoncang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Banjar Paketan, Buleleng, Bali yang hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan.Tradisi ini dilakukan dengan cara membunyikan kentongan (oncang-oncangan) dari bambu atau kayu secara berirama menjelang Hari Raya Pengerupukan, sehari sebelum Nyepi, sebagai wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus sarana untuk membersihkan diri dan lingkungan dari pengaruh negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna sosio-religius dan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi Ngoncang, serta menjelaskan relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi, melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemuda seka teruna, serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ngoncang memiliki makna religius sebagai bentuk bhakti, rasa syukur, dan penyucian spiritual, sedangkan dari sisi sosial berfungsi mempererat hubungan antarwarga melalui kebersamaan dan gotong royong. Selain itu, tradisi ini mengandung nilai-nilai pendidikan yang mencakup disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta penghormatan terhadap leluhur yang diwariskan kepada generasi muda. Kesimpulannya, tradisi Ngoncang tidak hanya memiliki fungsi ritual keagamaan, tetapi juga berperan sebagai sarana pembentukan karakter dan pelestarian budaya yang memperkuat identitas masyarakat Bali di tengah arus modernisasi.













