HIBRIDITAS BUDAYA TARI REJANG BUMI BHATARA GURU: REPRESENTASI IDENTITAS HINDU BALI DI TANAH PERANTAUAN (STUDI KASUS DI DESA CENDANA PUTIH, LUWU UTARA, SULAWESI SELATAN)
Kata Kunci:
hibriditas budaya, diaspora Hindu Bali, Tari Rejang Bumi Bhatara Guru, identitas budaya, kearifan lokalAbstrak
Tari Rejang Bumi Bhatara Guru yang berkembang di tengah masyarakat Hindu Bali perantauan di desa Cendana Putih, Luwu Utara menghadirkan potret menarik bahwa budaya mampu bertransformasi dan berpadu dengan kearifan lokal setempat tanpa kehilangan akar budaya asalnya. Integrasi antara kebudayaan Bali dan kearifan lokal Luwu melahirkan bentuk estetika baru yang mencerminkan proses negosiasi budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kreatif, makna filosofis dan peran sosial-religius tarian tersebut sebagai wujud representasi identitas Hindu Bali di wilayah diaspora. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan penerapan teknik wawancara mendalam, observasi netnografis dan analisis literatur. Proses interpretasi didasarkan pada teori Hibriditas Bhabha, Interaksionisme Simbolik Blumer, Semiotika Barthes dan Sakralitas Eliade. Hasil kajian menunjukkan adanya hibriditas budaya yang tercermin melalui perpaduan unsur gerak, musik dan busana yang memadukan budaya Bali dengan budaya lokal seperti Pakarena, Pa’gellu dan Ma’dero. Tarian ini tidak semata berfungsi sebagai sarana persembahan, tetapi juga sebagai penguat identitas, solidaritas sosial dan pendidikan multikultural yang menumbuhkan sikap inklusif. Secara filosofis, makna Bumi Bhatara Guru merepresentasikan prinsip harmoni antara manusia dengan sang pencipta, sesama dan alam. Temuan ini menegaskan bahwa hibriditas budaya berperan sebagai strategi adaptif masyarakat perantauan dalam merawat dan mentransformasikan nilai-nilai budaya asalnya serta memperkuat integrasi sosial dalam konteks sosial yang majemuk.













